Selasa, 23 Februari 2016

TIGA PULUH HARI MENULIS

BISMILLAHIRAHMANIRAHIM..

Aku baru sadar, rupanya bukan kali ini saja aku menantang diriku.  Jauh sebelumnya aku sudah mencoba menantang untuk melakukan sesuatu yang berbeda.    Tetapi mungkin karna belum bisa memegang komitmen, tidak adanya sistem “reward & punishment” dan evaluasi rutinan tiap minggu membuat keuntungan dari setiap tantangan sebelumnya belum bisa aku rasakan hasilnya.  Nah, ini menjadi kuncinya.  Cerita kedua ini, aku mulai dengan pengalaman baru yang juga baru selesai dilaksanakan.  Tepatnya tanggal dua belas bulan Oktober 2015, senin lalu aku bermalam di masjid atau bahasa satrinya ‘mabit”.  Ya, aku memulai menjalani minggu ketiga bulan Oktober ini dengan mabit di mesra (red : mesjid raya Bogor).  Ada dua faktor yang melatar belakangi bermalam disana, pertama karna memang aku sudah berencana untuk mabit disana jauh-jauh hari bersama oka, temanku.  Tetapi karna kesibukan dan waktunya tidak ada yang pas membuat rencana ini diundur dan diundur kembali.  Faktor kedua karna memang aku membutuhkan ‘Quallity time dengan Allah’.  Quality time dengan Sang Pencipta, aku manfaatkan waktu ini, tak hanya melepas rasa kangen yang begitu sangat akan tetapi aku pergunakan separuh waktu pagiku untuk merencanakan kehidupanku.  Memang, kita tidak boleh mendahului skenario Sang Pencipta. Tetapi kita juga dapat memilih hidup dengan tujuan yang jelas dibawah skenario yang memang sudah diatur olehNya.  Semua bisa drencanakan, begitu pula dengan hidup kita.  Hidup kita bisa didesain. 
Hal baik yang terjadi dalam hidupmu bisa direncanakan.  Kebahagiaan bisa diatur karna kita memiliki kuasa sepenuhnya untuk memilih.  Memilih apapun, termasuk kebahagiaan.  Tak hanya merencanakan       kehidupanku.  Jauh masuk ke fondasi utamanya aku menemukan jawaban dari pertanyaan yang mungkin semua orang menanyakannya.  “Untuk apa aku hidup ?” ; “Apa tujuan penciptaanku ini ?” Pada otak manusia, ada bagian yang disebut ‘god spot’ yang mana menghasilkan pertanyaan tentang eksistensi dirinya di dunia  ini.  Pertanyaan seperti diatas dihasilkan dari bagian otak ini.  Semua orang pasti punya pertanyaan seperti itu.  Tak menjadi masalah terlintas sesaat atau terus menerus terngiang dalam kepalanya. Menakjubkannya, semua orang diberi jalan untuk menemukan jawaban dari pertanyaan tadi.  Tetapi tidak banyak orang yang diizinkan oleh Allah dipertemukan dengan jawaban atas pertanyaan tersebut.  Semua tergantung kepada pemahaman orang tersebut terhadap makna kehidupan.  Aku beruntung dan bersyukur, aku salah satu orang yang sampai saat ini sudah menemukan jawaban itu, jawaban atas pertanyaan yang sejujurnya terngiang-ngiang selalu dalam kepala ini.  Apa sebenarnya tujuan hidupku, apa untuk sekedar hidup, bertumbuh lalu mati atau mungkin hidup lalu mati.  Dan inilah jawaban pertanyaan dari versiku,  ‘’Aku hidup di dunia ini dengan satu tujuan yakni menjadi manusia yang unggul baik dari emosional, spiritual dan intelektual.  Dengan keunggulan tersebut, dapat menyebarkan kebermanfaatan sebanyak-banyaknya untuk alam semesta, makhluk hidup lain, dan manusia seutuhnya dengan memberi contoh yang terbaik dari versi terbaik yang telah Allah anugerahkan juga memberi pengaruh positif hasil dari pikiran positif dan rasa optimisme yang berdasarkan melihat realitas yang ada namun penuh dengan berjuta harapan”.  Singkatnya kita diberi kehidupan didunia ini semata-mata dengan tujuan memberi manfaat sebanyak-banyaknya kepada segala objek yang ada, manusia ; tumbuhan ; hewan ; alam semesta dengan memaksimalkan tiga keunggulan yaitu emosional, spiritual, dan intelektual.  Syukur alhamdulillah, lega rasanya telah menemukan jawaban dari pertanyaan yang bisa diibaratkan menghantui selama hidup.  Kini jelas sudah, tugas utama aku yakni menjalankan langkah-langkah konkrit turunan dari tujuan hidupku.  Lalu apa tujuan kalian ? Sudahkah kalian menemukannya sama dengan ku ?? Setidaknya terdapat tiga hal utama untuk mengaktifkan tujuan diri sendiri, yaitu :
·         Selaraskan tujuan dangan kemampuan alami diri sendiri
·         Bertekad
·         Tetap rendah hati
 Jika belum juga, bersabarlah dan teruslah menjemput ‘bola’ karna sejatinya tujuan adalah pencarian tanpa henti akan suatu sasaran berharga sanpai tujuan itu tercapai.  Perlu kesungguhan hati dan kesabaran untuk mendapatkan jawabannya.  Akupun tak akan pernah berhenti disini, terus menerus mencari dan mencari rumusan mana yang paling tepat untuk jawaban pertanyaan versiku.  Kita memiliki kuasa untuk memilih.  Aku memilih masa depan dimana ada harapan dan kesempatan serta rasa bangga akan jasa yang aku berikan.  Aku memilih belajar untuk hidup dengan tujuan.  Dari buku The power of Focus karya Jack Canfield dan kawan-kawan, Menjalani hidup dengan tujuan memberikan kita kesempatan untuk memperkaya orang lain dan meninggalkan jejak ddalam cara yang positif.  Tujuan adalah gambaran besarnya sedangkan target adalah langkah-langkah yang menuntun kita di sepanjang jalan.  Hidup dengan tujuan berkaitan erat dengan memberi terus menerus menambahkan nilai bagi orang lain.  Tujuan jelas berhubungan dengan inspirasi.  Hal tersebut beralih dari sukses menuju bermakna.  Satu lagi tapi bukan yang terakhir, Jika kamu hidup dengan tujuan, kamu akan merasa bahwa kamu membuat PERUBAHAN.

Ini ceritaku, bagaimana ceritamu ??

TIGA PULUH HARI MENULIS Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Laras Cantik

0 komentar:

Posting Komentar

 

ABOUT US

PAGEVIEWS