MARATHON, MORE THAN RUN, The Way To Meaning of Life
Bismillahirahmanirahim..
Marathon adalah salah
satu cabang olahraga lari baik dilakukan sendiri maupun berkelompok. Seperti halnya lari, jarak dan waktu tempuh menjadi parameter
penilaian dalam marathon. Namun, pada
marathon jarak dan waktu tempuh dibuat
panjang dan lama. Untuk waktunya sendiri
bisa satu hari bahkan sampai tiga hari tergantung jarak yang ditempuhnya. Jarak pada marathon biasanya diatas 50 km. Tracknya pun dibuat berbeda dari track lari
biasa. Track marathon bervariasi bisa
jalanan beraspal yang mulus, jalan bebatuan yang terjal, atau bahkan jalan
berkelok pada bukit pegunungan. Namun,
memang semua model jalan bisa digunakan sebagai track untuk lari marathon. Seperti halnya pada event Bromo marathon 2015
yang baru saja dilangsungkan bulan Oktober lalu, Track yang dipilih oleh panitia acara jakni jalan
sekitaran gunung Bromo, sebagian jalan berpasir, sebagian jalan beraspal dan
sebagian lain jalan hutan yang berkelok-kelok.
Walaupun begitu event ini menyedot perhatian dan antusiasme banyak
peserta. Seribu peserta lebih ikut dalam
event tahunan ini. Pesertanya pun
berasal dari wisatawan domestik dan luar negri.
Bahkan, peserta paling banyak berasal dari luar negri yang sampai
mencapai 60% lebih dari total peserta.
Bromo Maraton 2015, bukan hanya menawarkan lari marathon dengan jarak
dan waktu yang lama seperti marathon pada biasanya akan tetapi ia juga
menawarkan pemandangan kelas dunia yang tiada duanya. Inilah alasan utama para pelancong luar negri
berbondong-bondong mengikuti event ini.
Kita bisa bayangkan, dari track yang disebutkan tidak ada track yang mudah.
Semuanya sulit, semuanya butuh energi dan stamina berlebih untuk bisa
menaklukkannya. Inilah mengapa tidak
semua orang suka terhadap cabang olahraga lari yang satu ini melihat jarak,
waktu dan track yang harus dilalui.
Mungkin sebagian orang menganggap
marathon adalah olahraga biasa, seperti olahraga lari pada umumnya. Mereka yang hanya melihat marathon dari kulit
terluarnya saja. Mereka yang belum
merasakan manfaat dari olahraga ini.
Mereka yang belum mengenal marathon sepenuhnya dan mereka yang belum mengetahui
filosofi hidup yang terdapat dalam olahraga
ini. Sangat disayangkan bagi orang yang
termasuk kedalam salah satu bagian mereka.
Aku memang belum
memiliki pengalaman dalam bermarathon ria.
Aku memang belum bisa merasakan manfaat sepenuhnya dari marathon. Tapi aku pastikan aku bukan termasuk kedalam
mereka. Setidaknya aku mengetahui dan
paham tentang filosofi hidup dalam marathon.
Ini berawal dari film Thailand yang berjudul “Seven Something” yang
berulang-ulang aku putar. Film itu
dibagi tiga cerita cinta yang berbeda. Baik tokoh utama, alur cerita,
penokohan, dan pesan ceritanya sendiri.
Semuanya sama sekali berbeda.
Yang paling sering aku putar adalah cerita yang ketiga, bercerita
tentang marathon. Tokoh utama seorang
wanita paruh baya bernama Kun. Ia baru
saja ditinggal suaminya seorang pilot karna kecelakaan pesawat. Kehilangan suaminya membuat ia sedih
sekali. Kariernya hancur dan bahkan
kehidupannya. Ia tidak tahu bagaimana
harus memulai hidupnya kembali setelah kehilangan orang yang ia cintai. Sampai beberapa bulan, ia sedang berjalan-jalan
di sekitar taman. Disanalah ia mengalami
‘kecelakaan’ dengan Milo. Milo tak
sengaja menabraknya ketika ia sedang berlari.
Kecelakaan itu menjadi awal mula kedekatan mereka. Kun dikenalkan dengan dunia marathon. Marathonlah yang membuat Milo bertahan hidup sampai
sekarang. Ia bercerita bahwa ketika ia
lahir, dokternya memvonis bahwa milo kecil hidupnya tak lama lagi. Ia menderita sebuah penyakit yang tidak
membolehkan ia berolahraga khususnya berlari.
Milo ingin membuktikan kepada dokter itu, bahwa ia dapat bertahan hidup
sampai sekarang karna marathon dan vonis dokter itu tidak benar. “Jika
kau ingin berlari maka satu sampai dua kilometer saja cukup tapi jika kau ingin
mengubah hidupmu, maka lari marathon-lah”. Filosofi hidup ini yang Milo berikan kepada
Kun. Selama tiga bulan menjalani latihan
bersama Milo, Kun merasa marathon memberinya kedamaian. Marathon memberi Kun kesempatan untuk menata
hidupnya kembali. Marathon membuat Kun
memulai hidup barunya. Yang seperti kata
Milo “Tidak masalah seberapa kau letihnya
hari ini tapi besok adalah hari baru untukmu”. Kun yakin kali ini pada kenyataannya masa
lalu dan kenangan itu tak pernah ada, yang ada hanya masalah memindahkan kaki
untuk tetap maju ke depan. Dan ia
percaya bahwa masih banyak yang datang tujuh kaki didepanmu lagi jadi jangan
langsung pergi.
Bagiku,
seseorang pasti punya alasan yang kuat kenapa dirinya lari marathon. Banyak cerita dari orang-orang yang memilih
marathon sebagai bentuk aksi. Aksi
lingkungan, sosial, bahkan untuk misi keagamaan. Sebutlah pelari wanita asal Amerika bernama
Rahaf. Ia ingin memberi pesan pada dunia
bahwa wanita muslim berjilbabpun bisa dengan bebas melakukan marathon.
Marathon-pun
juga tentang harapan. Menyebarkan
harapan hidup bagi yang membutuhkan. Aku
akan bercerita tentang sebuah kisah nyata.
Ini kisah tentang Terry Fox yang mengagumkan. Saat berumur delapan belas tahun, Terry
mengetahui bahwa ia terkena kanker.
Diagnosisnya adalah osteosarcoma, kanker
yang menyerang cepat dan sering kali menyerang kaki dan tangan serta dapat
menyebar ke paru-paru, otak dan hati.
Setelah mengetahui kenyataan pahit ini,
Terry memiliki dua pilihan: Menyerah dan menunggu kematian atau
menemukan sesuatu yang berharga untuk menjalani hidup. Ia memilih yang kedua. Dengan penyakit ini berarti ia akan
kehilangan kakinya. Selagi ia berbaring
di ranjang rumah sakit, ia bermimpi berlari ke seluruh Kanada. Hari itu ia membuat komitmen untuk menjadikan
mimpinya kenyataan. Visinya mulai
terbentuk.
Dengan
berkomitmen untuk membuat perubahan dalam perjuangan melawan kanker, ia
menciptakan tujuan yang sejati. Tujuan
berlari dengan satu kakinya, yang dinamakan Marathon Harapan. Dari sini ia mengumpulkan satu juta dollar
untuk penelitian kanker. Total uang yang
ia kumpulkan adalah $24,17 juta!
Terry menemukan
suatu tujuan yang begitu berharga hingga membuatnya bersemangat setiap hari
baik secara fisik maupun mental.
Kekuatan tujuan ini mendorongnya menampilkan performa yang luar biasa
tinggi. Meskipun ia hanya memiliki satu
kaki yang sehat, kaki palsu yang dipasang pada ujung kakinya yang lain
membuatnya bisa berlari. Sebenarnya ia
lebih seperti melompat. Dan membuat
jari-jari kakinya seperti tersandung di setiap langkah. Terry mengenakan celana pendek waktu ia
berlari. Hal ini tentunya membuat
sebagian orang merasa risih. Respon
Terry adalah “Inilah aku, mengapa harus menyembunyikannya ?” Mulai 12 April
1980, ia berlari marathon (empat puluh dua kilometer) hampir setiap hari, dan
mengarungi pencapaian yang luar biasa!
Dengan melakukan hal itu, ia memberikan harapan pada ribuan orang di
seluruh dunia.
Ada
juga anak bangsa yang melakukan hal yang sama dengan Terry. Namun, ia lebih beruntung daripada
Terry. Ialah Sandiago Uno. Pengusaha muda yang dimiliki bangsa
Indonesia. Berasal dari kalangan
pengusaha, tak menghalangi Ia untuk melakukan kepedulian terhadap sesama. Justru dengan profesinya selama ini menjadi
mudah untuk melakukan kepedulian
terhadap sesama. Ia sangat mencintai lari
marathon karnanya ia membuat sebuah event yang bernama “Marathon untuk
Berbagi”. Ia menyelaraskan tujuannya
dengan sesuatu yang benar-benar ia nikmati-atletik.
Marathon-pun
mengubah hidupku sedikit demi sedikit.
Ketika aku sedang ada di titik terbawah, aku selalu mengingat ucapan
Milo “Jika kau ingin berlari maka satu
sampai dua kilometer saja cukup tapi jika kau ingin mengubah hidupmu, maka lari
marathon-lah”. Ya, ketika kau ingin
mengubah hidupmu, kau harus berlari marathon.
Tak bisa hanya diam statis menunggu takdir. Marathon membuatku dinamis. Terus dan terus berlari mengejar
ketertinggalan. Saat aku bertanya pada
diriku tentang bagaimana aku bisa mengejar ketertinggalan. Jawabannya hanya satu BELAJAR LEBIH,
MELAKUKAN LEBIH, dan MEMBERI LEBIH.
MULAI DARI SEKARANG JANGAN MENUNDA MASA DEPAN YANG LEBIH BAIK. J
Ini ceritaku, bagaimana ceritamu
? Hari keempat #30DaysWritingChellenges..






0 komentar:
Posting Komentar