Rabu, 17 Februari 2016

Tiga Puluh Hari

Bismillahirahmanirahim..

Selalu dan selalu, cerita yang disajikan di  program 3600 metroTV membuatku jatuh cinta. Lagi dan lagi.  Kagum dengan orang dibalik layar sana, yang sangat apik dan profesional menyajikan cerita ‘kelas atas’ dari orang biasa.  Mereka sukses membuatku terinspirasi setiap kali menonton program ini.  Mereka sukses membuatku kagum dengan tokoh-tokoh yang diceritakan.  Baik topik bahasannya, alurnya, sudut pandangnya serta tokoh-tokoh yang dipilihnya membuatku tak bisa berkata apapun selain terpukau.  Sangat terpukau.  Program ini bisa dikatakan baru dan unik . Unik karna totally different from other.  3600 menyajikan tiga cerita yang berbeda.  Baik itu isi cerita, alurnya, sudut pandangnya, serta tokoh yang dijadikan sebagia narasumber.

Dalam episode kali ini, tepat tanggal 31 Oktober 2015 seperti biasa menyajikan tiga cerita yang berbeda.  Cerita pertama tentang review event Frankfurt Boofair 2015.  Bookfair terlengkap, terbesar, dan pastinya prestigouis abad dua puluh satu.  Bookfair ini juga paling istimewa bagi bangsa Indonesia.  Bagaimana tidak, dalam event tahunan ini,  Indonesia diberi kesempatan menjadi tamu kehormatan.  Kali ini kita tidak menjadi figuran lagi tetapi menjadi tokoh utamanya.  Bangsa Indonesia harus bangga akan ini.  Frankfurt Bookfair 2015 adalah sebuah festival buku terbesar dan terlengkap yang diselenggarakan tiap tahun di kota frankfurt, Jerman.  Festival ini menghadirkan karya-karya sastra luar biasa dari seluruh dunia.  Karya satra baik berupa literatur, referensi, teks kuno juga buku dihadirkan dalam festival ini.  Banyak karya sastra anak muda Indonesia yang ditampilkan atau dipameran dalam event ini.  Sebutlah karya fenomenal Andrea Hirata dengan Laskar Pelanginya yang sudah diterjemahkan ke dalam tiga puluh bahasa dunia.  Ternyata banyak karya sastra anak muda yang diminati pembaca luar negeri.  Pertanyaanpun muncul tetapi bukan tentang buku apa yang diminati oleh masyarakat dunia namun tentang bagaimana bisa Indonesia tepilih menjadi tamu kehormatan tahun ini.  Padahal minat membaca bangsa Indonesia bisa dibilang terendah dibanding sebutlah bangsa Jerman, Amerika, Jepang dan negara maju lainnya.  Walaupun bangsa ini sudah terbebas dari buta huruf, 95% untuk angka keberhasilannya tapi ini belum bisa menjadi alasan kuat kenapa Indonesia bisa menjadi tamu kehormatan.  Ketua pelaksana dan team panitia Frankfurt Bookfair 2015  sepakat bahwa dipilihnya Indonesia sebagai tamu kehormatan karena banyak karya-karya sastra fenomenal Indonesia sangat diminati oleh masyarakat dunia tetapi karna kurangnya ekspose menjadikan karya sastra ini tidak bisa berkembang ke luar.  Ini sangat disayangkan.  Bukan hanya itu saja, ucap Ketua pelaksana, tetapi juga dilihat dalam lingkup kawasan kecil asean saja hanya karya anak Indonesia yaitu Laskar pelangi karya Andrea Hirata yang diperbanyak sampai tiga puluh juta eksemplar. Jumlah ini mengalahkan karya sastra dari Filipina, Singapura dan Malaysia.  Dua alasan ini yang membuat Indonesia menjadi tuan rumah di festival luar negri. Sungguh, alasan yang tak terduga.

Walaupun event ini tak berlangsung lama ada sebuah pesan yang semoga tak lekang oleh waktu.  Pesan dari Bapak Anies Baswedan dan para penulis karya sastra yang telah mengharumkan nama Indonesia.  Pesan yang terkandung sebagai sebuah harapan.  Harapan yang akan membuat kita lebih baik lagi dari sekarang.  Harapan berupa budaya membaca dan menulis bagi bangsa Indonesia yang semakin melekat bahkan menjadi jati diri bangsa ini karna sejatinya bangsa yang maju adalah bangsa yang gemar membaca dan menulis.  Dengan membaca kita membuka wawasan, menimbulkan kreativitas tanpa batas, memunculkan ide dan inovasi sebagai solusi dari sebuah masalah serta keberanian untuk bertindak baik dan benar yang dapat juga mengerakkan sekitarnya.

Harapan juga muncul dari para pelaku sastra.  Harapan berupa masa depan cerah bagi penulis sastra.  Profesi penulis sastra yang tak kalah menjanjikannya dari profesi dokter bahkan artis.  Bahwa dengan hanya menulis karya sastra bisa membawa kita kelilling dunia secara gratis.   Bangsa Indonesia butuh lebih banyak lagi penulis yang menginspirasi, yang dengan semangat menulisnya mampu membangkitkan semangat juang bagi pembacanya.
Harapan itupun ada dalam diriku yang semoga tak akan pernah dilahap kejamnya waktu yang bergulir.  Harapan menjadi seorang penulis karya sastra yang bisa dinikmati oleh orang Indonesia khususnya anak muda Indonesia.  Harapan menjadi penulis yang dapat menginspirasi dari hal yang paling sederhana.  Semoga apa yang kita bangun dari awal tak akan pernah jadi sia-sia dan semoga apa yang kita perjuangan hari ini akan manis di masa depan.  Semoga dan selalu...

Tiga Puluh Hari Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Laras Cantik

2 komentar:

 

ABOUT US

PAGEVIEWS