Bismillahirahmanirahim..
Yusuf Mansur, Masyarakat Indonesia sering
menambahkan gelar islami dedepan nama beliau.
Kyai Haji Yusuf Mansur yang memiliki pesantren tersebar di seluruh
Indonesia. Memang pemberian nama
tersebut murni diberikan masyarakat Indonesia melihat dari acara islami yang
mengundang beliau sebagai pembicara.
Dalam banyak acara sering beliau ceramah tentang islam dan pemeluknya
dalam lingkup sehari-hari. Pembawaannya
yang sederhana, apa adanya, dan fleksibel membuat pengikutnya tidak hanya
berasal dari kalangan bawah tapi juga berasal dari kalangan atas semisal
pembisnis dan konglomerat. Keahliannya
dalam menyajikan materi yang bisa dibilang simpel dan menjadi masalah kecil
umat, beliau bawakan dengan penuh makna dan memberi solusi yang bisa diikuti
siapapun. Keahlian penetrasi dalam
penyampaian materi membuat pengikutnya bukan sekedar dari golongan tua tapi
juga ada dari golongan muda.
Banyak juga materi beliau terkait dengan
bisnis, ini tak heran karna sebelum menjadi penceramah, beliau sudah terlebih
dahulu berkecimpung dalam dunia bisnis.
Beliau menjadi seorang pengusaha sukses hingga sekarang yang menerapkan
prinsip “Allah dulu, Allah lagi, Allah terus”.
Dalam setiap kegiatan sehari-hari ia selalu menerapkan prinsip ini. Bagiku, ia bukan sekedar seorang pengusaha
ataupun seorang ‘ustadz’ tetapi lebih dari itu.
Bagiku, ia seorang panutan yang inshaAllah menjadi teladan.
Perkenalanku dengan beliau saat beliau
masih mengisi acara stasiun televisi yang bernama ‘wisata hati’. Perkenalanku dengan beliau memang bukan
pertemuan fisik tapi lewat perantara media .
Walaupun begitu, tak membuat pandangan-pandangannya tentang islam yang
aku terima menjadi kurang sempurna.
Mungkin lewat yusuf mansur, perantara hidayah itu mengalir. Tak henti-hentinya bibir ini mengucap syukur
atas kesempatan belajar dari seorang ahli.
Dulu sebelum pertemuanku dengan beliau, mungkin aku sempat tak mengenal
agamaku, tak merasakan betapa agama ini indah, tak paham tentang alasan dibalik
sebuah kejadian, tak tahu akan tujuanku hidup, buta akan kasih sayang
sekitarku, dan gagal dalam menikmati indahnya hari demi hari tetapi dengan kasih dan cintaNya, Ia
tunjukkan jalan hidayah itu lewat beliau.
Kala itu, pertengahan 2012 aku masih
berada di masa SMA. Saat itu sudah
menjelang akhir perjalananku di SMA dan melanjutkan kembali perjalanan pada
perguruan tinggi. Aku mendapat tiket
undangan masuk lewat jalur PMDK. Aku
mencoba jurusan Farmasi di UGM dan UnPad.
Ternyata memang Allah tak memberi jalan kesana. Akhirnya aku mengikuti banyak seleksi ujian
masuk PTN mulai dari gabungan dan mandiri.
Dari banyak seleksi tak satupun lolos.
Kecewa ? Pasti. Putus asa ? Hampir.
Dari yusuf mansur, aku belajar tentang
arti menerima sebuah ketentuan dariNya.
Menerima alur dari setiap skenarioNya.
Mengerti akan maksud lain dari Allah, sang Perancang Hidup Paling
Sempurna. Ia bukan hanya menginginkanku
untuk belajar ilmu dunia tapi juga menginginkanku belajar tentang kehidupan. Sedikit demi sedikit aku menerima akan
ketentuanNya. Kini, aku belajar
bagaimana menikmati dan mencoba menari saat hujan deras disertai petir silih
berganti dalam hidupku. Aku mencoba
menikmati hari demi hari yang aku miliki.
Apapun itu, baik atau buruk aku mencoba untuk mensyukuri dan
mengikhlaskan segala yang terjadi dalam hidupku.
Maka cukuplah perkataan dari seorang Umar
ibn ’Abdul Aziz penambah pemahamanku akan ketentuanNya ini “Barang siapa
memperbagus hal-hal tersembunyi, niscaya Allah jelitakan apa yang nampak dari
dirinya. Barangsiapa memperbaiki
hubungannya dengan Allah, niscaya Allah baikan hubungannya dengan sesama. Barang siapa disibukkan oleh urusan agamanya,
maka Allah yang akan mencukupinya dalam perkara dunia.
Lewat
beliau aku belajar islam sedikit demi sedikit.
Lewat beliau aku diperkenalkan pada islam yang membawa Rahmat juga islam
yang indah. Agama terlengkap yang
mengatur sendi-sendi kehidupan pemeluknya dengan sangat sempurna. Semakin aku mengenal islam lebih, semakin aku
bersyukur karna terlahir dari keluarga muslim.
Namun perjalananku belum selesai disini, aku sadar jalan ini masih
membentang harus dilalui.
Lewat beliau juga, aku belajar tentang
ilmu jadi pengusaha yang punya prinsip Allah dulu, Allah lagi, Allah
terus. Tentu kita tahu bahwa perjalanan
menjadi pengusaha muslim harus dibarengi perbaikan ketakwaan kepada Allah. Segala aspek dalam kehidupan kita harus
senantiasa diperbaiki dengan satu tujuan pada kata “ridho”. Semoga Allah meridhoi semua urusan kita di
dunia ini.
Sekarang aku masih belajar dengan beliau lewat
bisnis barunya Paytren. Paytren
merupakan mimpi besar Ust. Yusuf Mansur.
Bagaimana kita menang di Negeri sendiri.
Bagaimana kita yang menguasai kerajaan bisnis di negeri sendiri bukan
pihak asing. Serta bagaimana kita dapat
menikmati sumber daya alam yang telah Allah anugerahkan bagi negri ini. Lewat Paytren-lah mimpi itu dimulai. Dan mimpi beliau juga mimpiku, mimpi untuk
Indonesia menjadi lebih baik dikemudian hari.
TO
BE CONTINUE..
#30DWC Hari ke 26





0 komentar:
Posting Komentar